Selasa, 24 Januari 2012

Perkembangan Masa Bayi


Perkembangan Masa Bayi
Umumnya ahli psikologi perkembangan membatasi periode masa bayi dalam 2 tahun pertama dari periode pascanatal. Pada saat bayi dilahirkan bayi berada dalam kondisi yang sangat lemah dan tidak berdaya. Selama beberapa bulan masa bayi, ketidak berdayaan itu berangsur-angsur menurun. Dari hari ke hari, minggu ke minggu sehingga pada saat masa bayi berakhir, yaitu kira-kira pada usia 2 tahun, ia telah menjadi seorang manusia yang berbeda dengan kondisi awal bayi.

A.   Perkembangan Fisik[1]
Selama dua tahun pertama kehidupannya, perkembangan fisik bayi berlangsung sangat ekstensif. Dalam rentang waktu 12 bulan, bayi-bayi dapat duduk, berdiri, membungkuk bahkan berjalan. Kemudian selama tahun ke 2, pertumbuhan fisiknya melambat, tetapi pada kegitan-kegiatan seperti berlari dan memanjat pertumbuhannya justru berlangsung cepat. Berikut adalah gambaran lebih rinci tentang beberapa aspek dari pertumbuhan fisik yang terjadi selama masa bayi :
  1. Tinggi dan Berat badan
Pada saat dilahirkan, panjang rata-rata bayi adalah 20 inci atau 50 cm. dengan berat 3,4 kg. selama bulan-bulan pertama kehidupan, berat badan bayi bertambah sekitar 5-6 ons perminggu. Pada tahun ke 2 kehidupannya, rata-rata pertumbuhan bayi mengalami perlambatan. Pada usian 2 tahun, berat bayi mencapai sekitar 13-16 kg. dengan tinggi sekitar 32-35 inci (sandtrock, 1995).
  1. Perkembangan Refleks
Pada masa bayi, terlihat gerak-gerak spontan yang disebut “refleks”. Refleks adalah gerakan-gerakan bayi yang bersifat otomatis yang tidak terkoodinir sebagai reaksi terhadap rangsangan tertentu serta memberi bayi respon penyesuaian diri terhadap lingkungannya[2].
Diantara refleks-refleks yang muncul pada bayi itu adalah :
a.      Refleksi Menghisap dan mencari
Refleks mencari terlihat ketika pipi bayi disentuh dan diusapkan dengan lembut, maka ia langsung merespon dengan memalingkan kepalanya kea rah pipi yang disentuh. Disamping refleks mencari, bayi yang baru lahur juga memperlihatkan refleks menghisap. Bayi yang baru lahir secara otomatis akan menghisap benda yang ditempatkan dimulutnya. Jika kemudian bayi menemukan putting susu ibu, maka ia kan langsung menghisap secara kuat dan berirama tanpa belajar terlebih dahulu.
b.      Refleks Moro
Refleks moro adalah sesuatu respon tiba-tiba dari bayi yang baru lahir sebagai akibat adanya suara atau gerakan yang mengejutkannya. Belakangan ini, refleks moro dianggap sangat penting, karena dapat membantu dokter dalam mendisgnosa perkembangan sistem normal bayi. Bayi yang sehat akan menunjukkan respon tersebut apabila terkejut.
c.       Refleks Menggenggam
Refleks menggenggam terjadinya ketika sesuatu menyentuh telapak tangan bayi, dan bayi akan merespon dengan cara menggenggam dengan kuat. Pada bulan ketiga, refleks menggenggam ini berkurang dan bayi memperlihatkan suatu genggaman yang lebih spontan, yang sering dihasilkan oleh rangsangan visual.
  1. Rangkaian Tingkah Laku dan Keadaan Bayi
Perkembangan refleks dan fungsi motorik pada bayi kemudian memunculkan serangkaian laku yang kompleks. Menurut Lerner & Hultsch (1983), tingkah laku tersebut meliputi pola tidur dan bangun, tingkah laku toileting dan tingkah laku makan dan minum.
a.      Pola Tidur dan Bangun
Bayi yang baru lahir menghabiskan lebih banyak waktunya untuk tidur. Rata-rata bayi yang baru lahir tidur selama 16 hingga 17 jam sehari. Biasanya jumlah tidur bayi itu berkurang secara teratur setiap bulan. Pada usian kira-kira 1 bulan, umumnya bayi mulai tidur lebih lama pada malam hari, dan pada usia kira-kira 4 bulan pola tidurnya mendekati pola tidur orang dewasa. Pada umur 6 bulan, masa tidur bayi rata-rata hanya 13-14 jam perhari dan umur 24 bulan, hanya 11 hingga 12 jam perhari[3].
b.      Pola Makan dan Minum
Perkembangan fisik bayi tergantung pada makanan yang baik selama 2 tahun pertama. Sebagaimana orang dewasa, bayi membutuhkan makanan yang mengandung sejumlah protein, kalori, vitamin dan mineral. Bayi usia 4-6 bulan pertama, ASI atau susu formula lain, merupakan sumber makanan dan ebergi utama. Setelah usia 6 bulan, secara berabgsur bayi dapatiperkenalkan dengan makanan padat seperti beras, gandum atau buah yang disaring.
c.       Pola Buang Air
Ketika baru dilahirkan, bayi belum mampu mengendalikan buang airnya, sehingga buang air setiap saat. Pada usia 4 bulan, interval buang airnya sudah bisa diramalkan, pengendalian buang air besar rata-rata dimulai usia 6 bulan dan kebiasaan pengendalian buang air besar baru terbentuk pada akhir masa bayi.
  1. Perkembangan Ketrampilan Motorik[4]
Ketrampilan motorik adalah gerakan-gerakan tubuh atau bagian tubuh yang disengaja, otomatis dan akurat. Gerakan-gerakan ini merupakan rangkaian koodinasi dari beratus-ratus otot yang rumit. Ketrampilan motorik ini dapat dikelompokkan menurut ukuran otot-ototyang terkait, yaitu ketrampilan motorik kasar (gross motor skil) dan ketrampilan motorik halus (fine motor skill).
a.      Ketrampilan Motorik Kasar
Ketrampilan motorik kasar (Gross motor skill), meliputi ketrampilan otot-otot besar lengan, kaki dan batang tubuh, seperti berjalan dan melompat. Pada umur kira-kira 4 minggu, umumnya bayi dapat mengangkat kepalanya dari proses tengkurap. Pada usia 3-4 bulan, bayi dapat berguling. Pada usia 4-5 bulan bayi dapat menompang sebagian berat badan dan kakinya. Pada usia 6 bulan, bayi dapat duduk tanpa dukungan dan pada usia 7 bulan dapat merangkak dan berdiri tanpa dukungan. Pada usia 12-13 bulan, bayi usia 18-24 bulan, bayi / anak-anak yang baru berjalan, dapat berjalan cepat atau berlari untuk jarak pendek.
b.      Ketrampilan Motorik Halus
Ketrampilan motorik halus meliputi otot-otot kecil yang ada di seluruh tubuh, seperti meyentuh dan memegang. Pada saat baru dilahirkan, bayi masih mengalami kesulitan dalam mengontrol ketrampilan halusnya. Ketrampilan-ketrampilan sederhana, seperti menjangkau dan menggenggam ini muncul pada usia sekitar 4 atau 5 bulan, dan selama 2 tahun pertama kehidupan bayi, ketrampilan semakin baik.  
  1. Perkembangan Sensor
Bayi yang baru lahir telah dilengkapi dengan peralatan yang dirancang sedemikian rupa untuk mengumpulkan informasi. Semua informasi yang datang kepada bayi adalah melalui indra. Indra-indra berfungsi mendeteksi, dan meneruskan semua informasi yang datang padanya. Diantaranya adalah :
a.      Pengecapan
Bayi yang baru lahir juga telah memiliki kepekaan terhadap rasa. Menurut hasil penelitian, bayi-bayi yang baru lahir memperlihatkan suatu ekspresi seperti senyum, setelah diberi larutan manis, sebaliknya mereka akan mengerutkan lidahnya setelah diberi suatu larutan asam.
b.      Penciuman
Bayi yang baru lahir juga telah memiliki reaksi terhadap berbagai bau, baik bau harum maupun buruk. Bau cuka atau amoniak misalnya: membuat wajah bayi usia 1 minggu meringis dan memalingkan kepalanya. Merekapun dapat menemukan arah umum dari bau yang tidak enak.

c.       Pendengaran
Segera setelah kelahirannya, bayi dapat mndengar, sekalipun tidak sebaik pendengaran orang dewasa. Namun pendengaran bayi ini akan berkembang, sehingga ia akan memperlihatkan kemampuan melokalisasi sumber suara dan membedakan keras atau lemahnya serta durasi suara melalui respon yang berbeda.
d.      Penglihatan
Secara psikologis dan anatomis, bayi yang baru lahir telah memiliki kesiapan untuk merespon secara differensial berbagai aspek penglihatannya (Reese Lipsitt, 1970). Bayi yang baru lahir telah mempu membentuk diskriminasi visual secara baik. Bayi merespon secara baik dan selektif berbagai stimulus visual, misalnya bayi lebih senang melihat pola atau bentuk daripada warna / kecerahan.
  1. Perkembangan Otak
Pada waktu bayi masih berada dalam kandungan ibunya, badannya telah membentuk sekitar 1,5 milyar sel-sel badannya permenit. Pada saat lahir, berat otak bayi seperdelapan dari berat totalnya atau sekitar 25% dari berat otak dewasanya, maka pada tahun ke 2 otak bayi sudah mencapai kira kira 75% dari otak dewasanya.

B.     Perkembangan Kognitif [5]
Kognitif adalah istilah yang digunakan oleh psikolog untuk menjelaskan semua aktifitas mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan, dan pengolahan informasi yang memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan, memecahkan masalah dan merencanakan masa depan. Selama masa bayi, kapasitas intelektual atau kognitif seseorang telah mengalami perkembangan. Berikut penjelasan tentang perkembangan kognitif, terutama pandangan piaget dan pandangan kontemporer, perkembangan persepsi, konsepsi, memori dan bahasa.


  1. Perkembangan Kognitif Menurut Piaget
Piaget meyakini bahwa anak membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri. Anak tidak pasif menerima informasi, melainkan berperan aktif di dalam menyusun pengetahuannya mengenai realitas. Ia menyakini bahwa pemikiran seorang anak berkembang melalui serangkaian bahwa pemikiran dari masa berkembangnya melalui serangkaian tahap pemikiran dari masa bayi hingga dewasa. Tahap pemikiran pada masa bayi, disebut tahap sensoris-motorik. Tahap sensorik-motorik berlangsung dari kelahiran hingga kira-kira 2 tahun. Selama tahap ini, perkembangan mental ditandai dengan kemajuan pesat dalam kemampuan bayi untuk mengorganisasikan dan mengkoordinasikan sensai melalui tindakan-tindakan fisik. Dalam hal ini, bayi yang baru lahir bukan saja menerima secara pasif rangsangan terhadap alat indranya, melainkan juga aktif memberikan respons terhadap rangsangan tersebut.
  1. Perkembangan Kognitif Menurut pandangan Kontemporer
Menurut Sandtrock (1998), dewasa ini teori perkembangan sensorik motorik piaget telah disanggah dari dua sumber, pertama, penelitian dalam bidang perkembangan persepsi bayi. Menunjukkan bahwa bayi telah membentuk suatu dunia persepsi yang stabil dan berbeda jauh lebih awal dari pada yang dibayangkan oleh Piaget, kedua, para peneliti baru-baru ini telah menemukan bahwa memori dan bentuk-bentuk kegiatan simbolis lainnya terjadi pada kedua tahun pertama.
Kalau piaget menyakini bahwa perkembangan kognitif bayi baru tercapai pada pertengahan tahun kedua, amaka pakar psikologi pemrosesan informasi percaya bahwa perkembangan kognitif, seperti kemampuan dalam memberikan perhatian, menciptakan simbolis, meniru dan kemampuan konseptual telah dimiliki bayi lebih awal.
  1. Perkembangan persepsi
Persepsi pada hakikatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap individu dalam memahami informasi yang datang melalui indranya. Persepsi menyangkut hubungan manusia dengan lingkungannya, bagaimana ia mengerti dan menginterprestasikan stimulasi yang ada di lingkungannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan-kemampuan persepsi bayi telah berkembang sejak awal-awal kehidupannya.
  1. Perkembangan Konsepsi
Menurut Chaplin (2002) konsepsi adalah proses penggambaran ide atau proses berfikir. Untuk mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh bayi ternyata lebih sulit dibandingkan mengetahui apa yang dilihatnya, penelitian-penelitian terbaru tentang perkembangan persepsi dan konsepsi bayi menunjukkan bahwa bayi sebenarnya memiliki kemampuan persepsi yang lebih maju dan dapat berfikir jauh lebih awal. Peneliti-peneliti ini percaya bahwa bayi lahir dengan membawa kemampuan-kemampuan ini atau telah memperolehnya sejak awal perkembangan mereka.
  1. Perkembangan memori
Memori merupakan unsure inti dari perkembangan kognitif, sebab sehala belajar dari individu melibatkan memori dengan memori, individu dimungkinkan untuk dapat menyimpan informasi yang ia terima sepanjang waktu. Sejumlah peneliti telah membuktikan bahwa bayi sejak lahir telah memiliki kemampuan mengingat. Menurut Nascy Myers dan rekan-rekannya, seorang bayi berusia 6 bulan ternyata masih dapat diingatnya hingga 2 tahun kemudian (Sandtrock, 1995)
  1. Perkembangan Bahasa
Semua manusia yang normal dapat menguasai bahasa, sebab sejak lahir manusia telah memiliki kemampuan dan kesiapan untuk mempelajari bahasa dengan sendirinya. Pada akhir bulan pertama, bayi dapat membedakan suara manusia dengan suara lainnya. selama berbulan-bulan pertama kehidupannya, bayi juga banyak mengeluarkan suara-suara sederhana, seperti merengek, menjerit, bersin, batuk, dan sebagainya, kemudian pada usia 1-6 bulan, bayi mulai memperlihatkan minat terhadap suara, mulai mengoceh, mengeluarkan suara seperti “Goo-goo” dan ga-ga”. Pada usia 9-12 bulan. Bayi mulai memahami pelajaran, seperti “daah” ketika mengucapkan kata selamat tinggal.

C.   Perkembangan Psikososial[6]
Perkembangan psikososial berhubungan dengan perubahan-perubahan perasaan atau emosi dan kepribadian serta perubahan dalam bagaimana individu berhubungan dengan orang lain. Sebagai bayi yang sedang tumbuh menjadi lebih dewasa. Dia memiliki kedekatan dan keterkaitan emosional dengan orang-orang yang penting dari hidupnya. Bayi mempelajari apa yang diharapkan dari orang-orang yang penting dalam hidupnya. Mereka mengembangkan suatu perasaan mengenai siapa yang mereka senangi atau tidak dan makanan apa yang mereka sukai atau tidak (Seifert & Hoffnung, 1994). Ada beberapa hal yang berkaitan dengan perkembangan psikososial pada masa bayi, diantaranya emosi, temperamen dan attachment (keterikatan).
1.      Perkembangan Emosi
Para ahli telah lama mempercayai bahwa kemampuan untuk bereaksi secara emosional sudah ada pada bayi yang baru lahir seperti menangis, tersenyum dan frustasi. Bahkan beberapa peneliti percaya bahwa beberapa minggu setelah lahir bayi dapat memperlihatkan bermacam-macam ekspresi dari semua emosi dasar. Berdasarkan sistem klasifikasi Carrol Izard, diketahui beberapa ekspresi emosi pada bayi, yaitu
kegembiraan tertawa diekspresikan pada usia 4 bulan, ketakutan 5-8 bulan dan emosi yang lebih rumit seperti malu, kebingungan dan kebanggaan diekspresikan selama anak berjalan.
2.      Perkembangan Temperamen
Beberapa ahli perkembangan berpendapat bahwa temperamen adalah karakteristik bayi yang baru lahir yang akan dibentuk dan dimodifikasi oleh pengalaman-pengalaman masa kecil yang ditemui dalam lingkungannya. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa terdapat interaksi antara keturunan dan lingkungan dalam terjadinya perkembangan Sejak lahir bayi memperlihatkan berbagai aktifitas individual yang berbeda-beda. Beberapa bayi sangat aktif menggerakkan tangan, kaki dan mulutnya tanpa henti, tetapi bayi yang lain terlihat tenang. Semua gaya perilaku ini merupakan temperamen seorang bayi.
3.      Perkembangan Attachment
Bayi yang baru lahir telah memiliki perasaan sosial yakni kecenderungan alami untuk berinteraksi dan melakukan penyesuain sosial terhadap orang lain. Kontak sosial pertama bayi dengan pengasuhnya itu. Diperkirakan mulai terjadi pada usia 2 bulan, yaitu pada saat bayi tersenyum ketika memandang wajah ibunya.kemudian saat usia 3-4 bulan, mereka semakin memperlihatkan bahwa mereka mengenal dan menyenangi anggota keluarga yang dikenalnya dengan senyuman dan dapat menerima orang asing. Tetapi pada usia kira-kira 8 bulan bayi mulai mempunyai perasaan malu terhadap orang yang tidak dikenal. Pada usia 12 bulan. Umumnya bayi melekat erat pada orang tuanya ketika ketakutan atau mengira akan ditinggalkan. Ketika mereka bersama kembali, mereka akan mengumbar senyum dan memeluk orang tuanya.
4.      Perkembangan Rasa Percaya (Trust)
Menurut Eriksson, tahun-tahun pertama kehidupan ditandai oleh perkembangan rasa percaya (trust) dan rasa tidak percaya (mistrust). Keadaan percaya pada umumnya mengandung tiga aspek, yaitu:
1.      Bahwa bayi belajar percaya pada kesamaan dan kesinambungan dari pengasuh di luarnya
2.      Bahwa bayi belajar percaya diri dan dapat percaya pada kemampuan organ-organnya sendiri untuk menanggulangi dorongan-dorongan.
3.      Bahwa bayi menggangap dirinya cukup dapat dipercaya sehingga pengasuh tidak perlu waspada dirugikan (Eriksson, 1989).
5.      Perkembangan Otonomi
Menurut Eriksson, otonomi atau kemandirian merupakan tahap kedua perkembangan psikososial yang berlangsung pada akhir masa bayi dan masa baru pandai berjalan. Otonomi dibangun diatas perkembangan kemampuan mental dan kemampuan motorik. Pada tahap ini, juga dapat memanjat, membuka dan menutup menolak dan menarik, memegang dan melepaskan. Bayi merasa bangga dengan prestasi ini dan ingin melakukan segala sesuatu sendiri.


[1] Desmita, 2006, Psikologi Perkembangan. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya, hal 91
[2] http:// hbis. Wordpress.com/perkembangan Refleks pada bayi.
[3] Seifiert & Huffnung, 1994; Sandtrock, 1995
[4] Desmita, 2006. Psikologi perkembangan, Bandung. PT Remaja Rosdakarya, hal 97-100
[5] .. Desmita, 2006. Psikologi perkembangan, Bandung. PT Remaja Rosdakarya, hal 103
[6] Desmita.2006.Psikologi Perkembangan. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.hal 115

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar